Keutamaan Lailatur Qadar Serta Ciri-cirinya

Malam Lailatur Qadar merupakan malam yang dinantikan semua umat muslim. Keistimewaan malam Lailatur Qadar sendiri menjadi kesempatan bagi umat muslim untuk melaksanakan ibadah karena malam ini lebih baik dari seribu malam.

Laitalur Qadar sendiri mempunyai makna yang besar yang mana arti dari kata Al-Qadr yaitu “kemuliaan”. Dalam hal ini sudah tercantum didalam Al-Qur-an sebanyak 5 ayat, di turunkan di kota Mekah dan termasuk dalam kategori surat makkiyah. Arti dari surat Al-Qadr sendiri adalah Lailatur Qadar lebih baik daripada seribu bulan.

Keutamaan malam Laitalur Qadar juga menjadi tolok ukur bagi umat muslim untuk melakukan ibadah sebanyak-banyaknya di karenakan yang pertama yaitu malam Lailatur qadar lebih baik dari 1000 malam, yang kedua pada malam ini para malaikat turun ke bumi  termasuk malaikat Jibril untuk membawa kedamaian serta keselamatan serta memohon ampunan untuk umat muslim sampai terbit fajar.

Ciri – ciri malam Lailatur Qadar

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, “Lailatul qadar itu adalah malam, ketika Rasulullah memerintahkan kami untuk menegakkan salat di dalamnya, malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke-27 (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ada, pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang terik menyilaukan” (HR. Muslim 1272).

Berikut ciri-ciri malam Lailatur Qadar:

1. Suasana malam yang tenang

Pada malam ini susana serta angin yang berhembus sangat tenang dan lembut, ini karena malaikat turun ke bumi untuk menjaga kedamaiann serta ketenangan sehingga manusia mendapatkan kenikmatan yang tidak bisa di dapat di hari-hari lain. Hal ini juga di jelaskan dalam Hadist Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu yang berbunyi :

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ: لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ لاَ حَارَّةَ وَلاَ بَارِدَةَ, تُصْبِحُ شَمْسُهَا صَبِيْحَتُهَا صَفِيْقَةً حَمْرَاءَ.

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang (tanda-tanda) Lailatul Qadr: “Malam yang mudah, indah, tidak (berudara) panas maupun dingin, matahari terbit (di pagi harinya) dengan cahaya kemerah-merahan (tidak terik).”

2. Malam begitu cerah dan sangat terang

Dikatakan bahwasanya manusia mampu melihat terangnya malam hingga ke dalam mimpinya, sebagai yang di alami oleh para sahabat nabi dan juga dijelaskan pada hadist: Ubadah bin Ash Shamit Radhiyallahu anhu, ia berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِيْ الْعَشْرِ الْبَوَاقِيْ, مَنْ قَامَهُنَّ ابْتِغَاءَ حِسْبَتِهِنَّ فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَغْفِرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ, وَهِيَ لَيْلَةُ وِتْرٍ, تِسْعٌ أَوْ سَبْعٌ أَوْ خَامِسَةٌ أَوْ ثَالِثَةٌ أَوْ آخِرُ لَيْلَةٍ, وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ َ: إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيْهَا قَمَراً سَاطِعاً سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ, لاَ بَرْدَ فِيْهَا وَلاَ حَرَّ, وَلاَ يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ فِيْهَا حَتَّى تُصْبِحَ, وَإِنَّ أَمَارَتَهَا أَنَّ الشَّمْسَ صَبِيْحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً, لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ, وَلاَ يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذٍ.

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lailatul Qadr (terjadi) pada sepuluh malam terakhir. Barangsiapa yang menghidupkan malam-malam itu karena berharap keutamaannya, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.

3. Udara tidak terlalu panas atau dingin

dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

Artinya: “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.”

4. Matahari terbit dengan jelas

Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih dan tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Shubuh hari dari malam lailatulqadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim)

Editor: Putri Nur Sabrini Anastasia

Referensi :

Muhammad Quraish Shihab, Wawasan Al Qur'an
Britannica Guide to the Islamic World. Encyclopaedia Britannica, Inc. 2009.
"Laylat al-Qadr". Melton, J. Gordon (ed.). Religious Celebrations: An Encyclopedia of Holidays, Festivals, Solemn Observances, and Spiritual Commemorations [2 volumes]: An Encyclopedia of Holidays, Festivals, Solemn Observances, and Spiritual Commemorations. Volume two L-Z. Santa Barbara, CA: ABC-CLIO. p. 517.
Seyyed Hossein Nasr (2015), The Study Quran, HarperCollins, p.1539
Qarashī, Qāmūs al-Qurʾān, vol. 5, p. 246–247
Makarem Shirazi, Tafsir Nomoneh, 1996, vol. 27, p. 188.
al-Mubarakpuri, Safi-ur-Rahman (2002).
Miftahul Khair
Miftahul Khair

Oke

Articles: 58