Keberadaan “TUHAN” Dalam Perspektif Agama dan Sains

Di masa lalu ada seorang ilmuwan fisikawan terkenal bernama Albert Einstein yang di dalam sebuah seminar, pertanyaan pertama yang di lontarkan einsten ialah “Jika ada Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta dan semua Hukum Fisikanya, apakah Tuhan mengikuti Hukum Tuhan Sendiri? atau dapatkah Tuhan memiliki kemampuan melebihi Hukum nya sendiri, seperti berpergian lebih cepat dari kecepatan cahaya dan dengan demikian dapat berada di dua tempat berbeda pada waktu yang sama? Dan biasakah jawaban nya membantu kita membuktikan apakah Tuhan itu ada atau tidak atau disinilah empirisme ilmiah dan keyakinan agama bersinggungan, tanpa memberikan jawaban yang benar?.

Pertanyaan di atas tadi bisa dapat menjadi pertanyaan yang berhubungan dengan kondisi pada tahun 2020 yang mana pada saat itu maraknya virus corona yang menyebar hampir setengah dari populasi dunia, bahkan di Indonesia sendiri banyak yang terkena virus bahkan sampai merenggang nyawa. Dalam situasi ini tidak sedikit orang dari kita yang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Jika Tuhan itu ada, mengapa bencana ini bisa terjadi? jadi, gagasan bahwa Tuhan mungkin “terikat” Oleh hukum fisika yang juga mengatur kimia dan biologi dan dengan demikian juga membatasi dalam ilmu kedokteran.

Dalam kondisi seperti ini juga dapat di pertanyakan “jika Tuhan Maha dan kuasa, kenapa dia menimbulkan kesengsaraan pada manusia melalui pandemi korona? Jika dia disebut sebagai yang- MahaKuasa, kenapa dia tidak segera menghentikan penderitaan ini agar manusia hidup kembali normal?. Pertanyaan skeptis semacam ini sangatlah manusiawi, di karenakan manusia seperti kita ini harus mencari kebenaran dan keberadaan sesuatu yang kita Sembah (Tuhan).

Ada dua macam sifat yang mutlak di miliki oleh Tuhan, yaitu  Tuhan yang hidup (Hayyun) dan karena itu ia berkuasa secara mutlak. Wujud Tuhan adalah  wujud pada puncak hierarki dan karena itu, kekuasaan-Nya juga merupakan kekuasaan yang sempurna. Lalu, kenapa Tuhan menciptakan dunia  dalam bentuk yang penuh dengan kekurangan, penderitaan? Tidak mungkinkan Tuhan menciptakan dunia yang sempurna, semacam “utopia” yang tanpa cacat sedikit pun?. Pertanyaan seperti ini dalam tradisi pemikiran ke-Tuhanan, teologi, di sebut sebagai “teodisi”. Pertanyaan ini sudah menjadi pembahasan para teolog, filsuf, pemikir, dan ulama sejak dahulu dan menamai sebagai “Pertanyaan perennial (abadi). Dalam beberapa dekade pertanyaan seperti ini tak akan pernah terjawab. Dan ini adalah salah satu bagian dari misteri hidup yang harus kita terima dari assaru-l-asrar, yang rahasia dari segala rahasia.

Salah satu sarjana besar islam yaitu Al-Ghazali menulis semua bab khusus yang berjudul “Kitab al-tauhid wa al-Tawakkal’.  Dalam bab ini juga inilah pertanyaan teodisi sebelumnya yang akan dibahas lebih dalam. Al-Ghazali mengungkapkan sebuah perkataan yang kemudian menimbulkan perdebatan yang panjang serta sangat kontroversi di kalangan ulama. Ungkapan itu berbunyi : “laisa fil-imkan abda’u mimma kana” (tak ada dunia yang lebih sempurna ketimbang dunia yang sudah ada sekarang ini).  Pernyataan ini sangat sederhana, tetapi menimbulkan ke makna yang banyak, artinya pernyataan ini menimbulkan ketidakjelasan “jika dunia yang ada sekarang ini sudah paling baik, artinya Tuhan ” tak  mampu” mencipta dunia yang lebih baik lagi, kurang lebih maknanya seperti ini, Tuhan tidak mampu atau tidak sesempurna itu atas kuasanya.

Imam al-suyuti (w.1505), seorang ulama polymath besar dari Mesir, menulis kitab berjudul “Tassyid al- Arkan” untuk membela pernyataan dari Al-Ghazali dari serangan-serangan ulama lain gara-gara pernyataan tersebut. Inti dari penjelasan Al-Ghazali ialah memang ada kejahatan, penderitaan, penyakit, dan kesakitan di dunia, dari dulu hingga kapan pun. Tapi, apa yang sudah ada saat ini adalah bentuk dunia yang paling mungkin dan sempurna.

Dengan kata lain, tak mungkin ada dunia yang lebih sempurna dari dunia yang ada sekarang, dengan segala kekurangannya. Apa yang dalam skala kecil kita kira penderitaan, dalam “the grand scheme of things”, skala besar bisa jadi merupakan berkah. Contohnya dalam kasus pandemi virus corona yang dalam satu sisi merupakan peristiwa yang jutaan manusia mengalami penderitaan yang amat besar.  Ribuan buruh yang kehilangan pekerjaan karena perusahaan tak mampu membayar gaji mereka gara-gara ekonomi dunia mengalami penurunan drastis. Jutaan ribu nyawa melayang, serta menyisakan kedukaan bagi orang yang kehilangan anggota keluarganya. Tetapi, tak seluruh kisah pandemi corona adalah kesedihan. Di sisi lain, ada banyak hal-hal  yang baik dalam peristiwa ini salah satunya banyak orang baik muncul dengan rela dan ikhlas untuk menyumbangkan hartanya untuk orang yang membutuhkan dan juga dalam dunia pendidikan munculnya aplikasi Zoom yang membantu Anak sekolah dan mahasiswa untuk pembelajaran baru secara daring (jarak jauh).

Seseorang yang beriman selalu menaruh husnudzon, kepercayaan bahwa di balik segala penderitaan dalam skala kecil, ada hikmah bear dalam skala besar yang mungkin baru diketahui belakangan. Dengan sikap hidup semacam ini, ia tak akan putus harapan dalam keadaan apapun.

Referensi :

swinburne, R.G. (1995), "God", dalam Honderich, Ted, The Oxford Companion to Philosophy, Oxford: Oxford University Press.
Shupak, N. (1995), The Monotheism of Moses and the Monotheism of Akhenaten, Sevivot.
Kidder, David S.; Oppenheim, Noah D., The Intellectual Devotional: Revive Your Mind, Complete Your Education, and Roam Confidently With the Cultured Class,
Bhaskara Tanda, Swami (2002), Essentials of Hinduism, Viveka Press,

Miftahul Khair
Miftahul Khair

Oke

Articles: 43