Bumi Sudah Mencapai Fase Tidak Layak Untuk di Huni?

Kondisi bumi saat ini memasuki fase yang semakin tak ramah untuk manusia huni. Salah satu penyebabnya yaitu ulah manusia sendiri. Sebuah studi terbaru juga menyatakan bumi saat ini sudah tidak memenuhi standar layak huni dikarenakan adanya polusi udara dan laut.

Para ilmuwan mengatakan, iklim, tanah, air dan polusi nutrisi beserta bahan baku kimia buatan manusia seperti limbah nuklir dan mikroplastik saat ini dalam keadaan tidak stabil. Tingkat keasamaan lautan, kesehatan udara dan lapisan ozon hingga saat ini masih berada dalam posisi batas aman, sedangkan polusi laut dan udara berada dalam tingkatan yang buruk.

Pada tahun 2009, dikutip dari makalah yang dikemukakan oleh Rockstrom yang membuat penelitian mengenai batasan mengenai kesehatan bumi menggunakan pengukuran ilmiah dan hasilnya ada 9 batasan yang berhasil di buat. Di terbitkan di jurnal science makalah ini di perbarui ulang pada tahun 2015 dan menambah faktor keenam ke dalam kategori tidak aman.

Rockstrom mengatakan bahwa berkurangnya ketahanan ini bisa membuat pembatasan kenaikan pemanasan global di 1,5 Celcius terdengar mustahil dan bisa membawa dunia lebih dekat ke titik krisis. Sementara itu, Ilmuwan mengatakan bahwa beberapa bulan kedepan ini, dunia telah berada di ambang titik kritis yang membawa banyak bencana.

Namun, ada hal yang membuat para ilmuwan saat ini khawatir yaitu keempat batas biologis, yang kategorinya masuk ke dalam integritas biofers dan aliran bio kimia yang di ambang beresiko sangat tinggi. Para ilmuwan menyebutkan jika keempat batas inilah yang menjadi pendukung kehidupan vital bagi bumi, dalam perlindungan serta menyediakan ketahanan dengan mengkompensasi beberapa perubahan bentuk fisik. Contohnya pada pohon yang menyerap polusi karbon dioksida.

Sains dan dunia sangat khawatir atas semua peristiwa iklim ekstrem yang menyerang masyarakat di seluruh dunia. “Namun yang paling membuat kami khawatir adalah meningkatnya tanda-tanda berkurangnya ketahanan planet,” ujar Prof Johan Rockstrom, Direktur Pusat Ketahanan Stockholm.

Rockstrom mengatakan ini seperti simulasi uji stres untuk planet ini. Simulasi tersebut menunjukkan salah satu cara paling ampuh yang dimiliki manusia untuk memerangi perubahan iklim adalah dengan membersihkan lahan dan menyelamatkan hutan. Mengembalikan hutan ke tingkat yang sama seperti pada akhir abad ke-20 akan menjadi penyerap alami yang substansial untuk menyimpan karbon dioksida, sehingga karbon dioksida tidak berada di udara dan berujung memerangkap panas.

“Keanekaragaman hayati sangat penting untuk menjaga siklus karbon dan siklus air. Masalah terbesar saat ini yang kita hadapi adalah krisis iklim dan krisis keanekaragaman hayati,” kata Rockstrom.

Editor: Putri Nur Sabrini Anastasia

Referensi :

"Understand the nature and distribution of habitable environments in the Universe". Astrobiology: Roadmap.
PHL's Exoplanets Catalog - Planetary Habitability Laboratory @ UPR Arecibo".
Cazenave, Anny (1995). Ahrens, Thomas J. (èd.). Global earth physics a handbook of physical constants. 
McCarthy, Dennis D.; Petit, Gérard (èd.). IERS Technical Note No. 32. U.S. Naval Observatory and Bureau International des Poids et Mesures.
Various (2000). David R. Lide (èd.). Handbook of Chemistry and Physics (édhisi ka-81st). CRC. 
Singh, J. S.; Singh, S. P.; Gupta, S.R. (2013). Ecology environmental science and conservation.

Baca juga: Kaji Gempa Bumi Azab Tuhan atau Keteraturan Alam, Melalui Kajian Keislaman

Miftahul Khair
Miftahul Khair

Oke

Articles: 43