Web3 : Inovasi Platform Media Sosial pada Era Digital

Web3 adalah generasi ketiga dari evolusi teknologi web yang berbasis blockchain dan memiliki sistem yang terdesentralisasi.  Web3 menggunakan sistem machince learning dan Artifical Intelegent (AI) untuk memberdayakan platform yang lebih cerdas sekaligus adaptif.

Internet yang saat ini kita gunakan adalah Web2, dan juga dinaungi langsung oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube dan  MySpace yang menggunakan data pribadi kita sebagai nilai tukarnya. Perbedaan mendasar dari web2 dan web3 yaitu terletak pada sistem desentralisasi, yang dimana sistem ini mampu membantu pengguna dalam mengakses platform media sosial tanpa menggunakan data pribadi serta aman dalam penggunaannya.

Selain berbasis blockchain dan desentralisasi, ada juga komponen penting yang membuat web3 semakin canggih yaitu composability. Kualitas yang ada pada komponen komposisi dapat memungkinkan web3 dapat digunakan secara open-source dengan banyak orang dan mampu berkembang lebih cepat dibanding sistem yang masih sentral.

Salah satu fungsi Web3 di bidang media sosial adalah platform yang memanfaatkan teknologi blockchain untuk memberikan kepemilikan yang lebih besar kepada pengguna atas data dan konten mereka, serta memberikan insentif ekonomi untuk partisipasi aktif.

Ada Beberapa proyek dalam ruang Web3 yang mencoba mengubah paradigma sosial media tradisional (web2) menjadi lebih terdesentralisasi dan berfokus pada privasi sebagai berikut :

1. Steem 

Platform blogging dan sosial media yang berjalan di blockchain Steem. Ini memungkinkan pengguna untuk memposting konten, memberi suara, dan mendapatkan imbalan dalam bentuk token kripto.

2. Minds

Sosial media terdesentralisasi yang memungkinkan penggunanya untuk memposting konten, berbagi, dan berinteraksi dengan komunitas mereka. Platform ini memiliki model monetisasi yang berfokus pada kebebasan berbicara dan privasi.

3. LBRY 

Platform berbagi konten terdesentralisasi yang memungkinkan penggunanya untuk mengunggah, memonetisasi, dan juga dapat menemukan konten dalam berbagai bentuk, termasuk video, musik, dan e-book.

4. Hive

Sosial media terdesentralisasi yang berjalan di blockchain Hive. Ini menawarkan berbagai fitur seperti blogging, forum, dan permainan, semuanya mencakup dengan insentif kripto.

5. Scuttlebutt

Protokol terdesentralisasi untuk komunikasi peer-to-peer yang memprioritaskan privasi dan kebebasan berbicara pada pengguna. Hal ini dapat memungkinkan pembentukan jejaring sosial yang terdesentralisasi tanpa perlu server pusat.

Meskipun masih dalam tahap perkembangan, proyek-proyek pada web3 ini menunjukkan potensi untuk mengubah lanskap sosial media menjadi lebih terdesentralisasi, aman,  dan dapat mampu memperhatikan privasi pengguna.

Referensi :

Alford, Harry (September 16, 2021). "Crypto's networked collaboration will drive Web 3.0". TechCrunch. Archived
Fenwick, Mark and Jurcys, Paulius, The Contested Meaning of Web3 and Why it Matters for (IP) Lawyers (January 27, 2022).
Allyn, Bobby (November 21, 2021). "People are talking about Web3. Is it the Internet of the future or just a buzzword?". All Things Considered. NPR.
Cormode, Graham; Krishnamurthy, Balachander (June 2, 2008). "Key differences between Web 1.0 and Web 2.0".
Shannon, Victoria (May 23, 2006). "A 'more revolutionary' Web". International Herald Tribune
Miftahul Khair
Miftahul Khair

Oke

Articles: 43